Salam Juang.....!!!

Hidup Mahasiswa........!!!Hidup Mahasiswa........!!!Hidup Mahasiswa........!!!

"""Bergerak Melawan Penjajahan, Penindasan, Kesewenang-wenangan Pemerintah terhadap Rakyat Sipil Papua, Demi Kemajuan, kemandirian, Kesejahteraan, Kemakmuran & untuk PENEGAKAN HARKAT DAN MARTABAT BANGSA PAPUA"""




Kamis, 01 September 2011

TENTANG SANG PEREMPUAN

Gelar sebagai Ibu Rumah Tangga adalah gelar kesekian dari karya-karya seorang perempuan”
Bukankah sejarah mencatat bahwa Tuhan menciptakan manusia dari Perempuan dan laki-laki, tetapi mengapa sejarah hanya diciptakan oleh kaum laki-laki. Apakah wanita hanya sebatas kurir dari sebuah batera rumah tangga, sehingga karyanya hanya diketahui oleh anak dan suaminya. Ataukah demikianlah yang dikodratkan Tuhan tentang perempuan, sebagai kaum pelengkap dari manusia laki-laki. Tetapi bukankah perempuan adalah kunci dari peradaban umat manusia. Sebab tanpa makluk pelengkap yang diciptakan Tuhan ini, tidak akan akan pernah ada manusia di dunia ! Ataukah kodrat Tuhan bagi Perempuan adalah sebuah kutukan ! ataukah sebuah Berkat baginya. Kalau memang sebuah kutukan, mengapa dari rahimnya melahirkan banyak sekali pemimpin di dunia ini, tanpa terkecuali Nabi-nabi Tuhan dan Tuhan Yesus Kristus sendiri yang dilahirkan dari kandungan seorang Perempuan.
Ataukah demikian karunia yang ada padanya sebagai kaum lemah, yang bisanya hanya berlindung pada laki-laki yang dianggapnya bisa melindungnginya. Padahal diketahui bersama bahwa sampai detik ini ia masih diakui sebagai makluk tertangguh di dunia ini. Bukan hanya sebagai kunci peradaban manusia di dunia ini saja, tetapi juga sebagai pembentuk sejatih karakteristik umat manusia dengan kapasitasnya sebagai seorang ibu. Bukankah lagi-lagi sejarah kehidupan mencatat hebatnya seorang perempuan ketimbang kaum laki-laki. Ketika laki-laki hanya tahu bagiannya sebagai kepala rumah tangga sehingga memikirkan hal-hal yang praktis, yaitu mencari nafkah seharian guna kehidupannya bersama keluarganya. Tetapi tahukah kamu apa yang dikerjakan seorang perempuan seharian ketika laki-laki menghabiskan harinya mencari nafkah. Bayangkanlah ketika Sembilan bulan mengandung, hari-harinya ditemani tangisan sang bayi yang rewel, kotoran sang bayi yang harus diganti setiap jam, makananan sekeluarga yang harus dibuatnya, pakaian kotor yang harus diurusnya, pertikaian hari itu yang terus menghantuinya. Dan banyak lagi masalah rumah tanggah yang ditanganinya. Itukah perempuan ? bukankah dia telah mengucilkan dirinya sebagai yang pantas disebut ratu dari kehidupan manusia.
Tetapi demikianlah ia, gelar sebagai Ibu rumah tangga adalah gelar kesekian dari karya-karya seorang perempuan. Banyak sejarah menceritakan hebatnya sang perempuan. Diluar dari kodratnya pada adat-adat tertentu dan pada dua agama universal yaitu Kristen dan Islam. Dua agama tersebut memposisikan perempuan sebagai kaum nomor dua yang harus tunduk kepada laki-laki apapun itu. Ketika laki-laki itu masih bertanggungjaawab sebagai seorang pemimpin dalam rumahtangga. Atau yang di yakini oleh Bangsa Yahudi bahwa perempuan adalah pembawah laknat, atau murkah. Karena sang perempuanlah yang mengakibatkan jatuhnya manusia pertama yang diciptakan Tuhan kedalam dosa. Namun apapun stigmaannya, harus diakui bahwa baik manusia laki-laki atau perempuan sampai saat ini mewarisi watak dan karakteristik seorang ibu, yang adalah seorang perempuan.
Harus diakui bahwa dunia melupakan karya seorang perempuan. Ia sendiripun memposisikan dirinya sebagai manusia nomor dua setelah kaum laki-laki. Ataukah kita sendiri sebagai anak seorang perempuan melupakannya. Mungkinkah lebih banyak historiografi kaum laki-laki dan kehebatannya sehingga sang perempuan disepelehkan. Disepelehkan dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam kehidupan social, ekonomi, politik, adat-istiadat, bahkan Agama. Dalam hal itupun harus kita tinjau kembali melihat sejarah setiap bangsa yang ditindas, sebelum kini menjadi bangsa yang merdeka. Dimana peranan perempuan tidak kalah hebat dan tidak kalah berpengaruh. Radikalisme perempuan dalam memposisikan diri sebagai seorang revolusioner sejatih sempat menakuti bangsa kolonial di setiap Negara tertindas. Ia tidak memikirkan keanggunannya, anak dan suaminya, serta sanak saudaranya. Tetapi ia memikirkan perubuhan menyeluruh bangsa dan kaumnya.
Seperti halnya Harriet Tudman, seorang perempuan kulit hitam yang mengalami benturan di kepala pada masa kecilnya dan dampaknya sampai ia dewasa, tetapi ia tetap gigi memperjuangkan hak ia dan kaumnya sebagai budak yang ingin menjadi bangsa merdeka. Perempuan yang juga buta huruf itu tetap gigi bekerja sebagai pemebantu rumah tangga selama berbulan-bulan di suatu Negara, yang uang itu dikumpulkan untuk pergi ke kaumnya secara diam-diam dan mengeluarkan mereka secara sembunyi-sembunyi. Perempuan paruh baya berpenampilan gembel itu sangat di hormati oleh kaumnya baik kulit hitam dan putih dan ia ditakuti oleh bangsa feodal pada saat itu di New England. Ia dijuluki oleh para elit anti perbudakan, dengan nama “Jendral Tudman’.
Ataukah di Indonesia sendiri kita mendengar nama-nama seperti Kartini, Dewi Sartika, Walandouw maramis, S.K Trimurti, Nyut Nyak Din, Nyi Ageng Seran, Pocut Meurah Intan, dan masih banyak lagi. Kita telah mendengar peran penting mereka yang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, walaupun mereka semua tidak sempat menghirup udara kemerdekaan saat ini. Ataukah kita menoleh mereka yang saat itu ditangkap dan dibunuh oleh feodalisme Nipon Jepang. Semua hal itu membuktikan bahwa perempuan itu sama penting peranannya dalam kehidupan suatu bangsa. Persamaan Jender itu perlu diyakinkan untuk kaum perempuan masa kini. Bahwa tidak perlu merasa sebagai kaum nomor dua dalam peradaban manusia. Karena sampai kini di era modern kaum perempuan sudah banyak menduduki pekerjaan kaum laki-laki.
Akhirnya harus dikembalikan kepada semua perempuan bahwa ketika ia berfikir bisa menjadi pemimpin dan bukan sekedar manusia ke dua, maka hal itu akan terjadi. Tentunya diusahkan dengan perjuangan dan kerja keras. kalau sebagai kaum pelajar maka dengan belajar dan bersaing guna untuk meraih cita-cita yang tinggi. Dan memanfaatkan ruang yang menjadi kesempatannya untuk berkarya. Hal ini pun bukan saja bagi kaum perempuan tetapi kaum laki-laki juga harus demikian.” Akhirnya mari berkarya dan menghiasi Zaman akhir ini tanpa ada perbedaan jender. (yason)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar